Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tak Dibekali Charger Menjadi Tren Terbaru Smartphone, Apa Manfaatnya dan Akankah Efektif ?

Tak Dibekali Charger Menjadi Tren Terbaru Smartphone
Tak Dibekali Charger Menjadi Tren Terbaru Smartphone, Apa Manfaatnya dan Akankah Efektif ? - Sudah menjadi rahasia umum apabila iPhone mengeluarkan produk terbaru yang beda dari pasar yang ada, maka vendor smartphone lain akan mengikuti "inovasi" yang dilakukan oleh pabrikan asal amerika tersebut. Sebagai contoh, ketika iPhone pertama kali menggunakan "poni" pada smartphone buatan mereka. Sontak, tren tersebut diikuti oleh banyak vendor smartphone lainnya seperti Xiaomi, Realme, Huawei, dan lain lain. 

Kali ini, pada 23 Oktober 2020, iPhone kembali merilis smartphone versi terbaru mereka bernama iPhone 12. Hal yang mengejutkan adalah, iPhone 12 kini tidak dibekali charger didalam boxnya. Menurut pihak Apple, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi limbah elektronik sehingga menjadi lebih ramah lingkungan. Seperti yang terjadi sebelumnya, tren ini menjadi bahan olokan pada awalnya karena charger sendiri merupakan salah satu hal yang paling penting bagi smartphone. Akan tetapi, akhirnya tren ini diikuti oleh beberapa vendor smartphone seperti, Samsung yang baru saja merilis Samsung S21 yang juga tidak dibekali charger dan Juga vendor smartphone asal China, yaitu Xiaomi yang juga tidak menyertai charger pada produk Mi 11 mereka. Tren ini pasti akan diikuti oleh vendor smartphone lainnya seperti Realme, Oppo, Vivo ataupun Huawei. Sebenarnya, seberapa efektif-nya sih tren tersebut ? Serta adakah dampak positif ataupun negatif ?  

Dampak Positif dari Menghilangkan Charger Pada Pembelian Smartphone 

1. Mengurangi Cost Production bagi vendor

Dampak positif yang pertama dari tren tersebut adalah mengurangi ongkos produksi bagi perusahaan. Charger sendiri merupakan salah satu komponen yang cukup menelan banyak biaya terlebih lagi biaya pada sektor Research and Development. Mengapa begitu ? Banyak vendor yang giat melakukan riset agar smartphone dapat melakukan pengisian ulang secepat dan se-efisien mungkin. Riset ini pada akhirnya menghasilkan teknologi Quick Charge yang sekarang mulai di aplikasikan pada setiap Smartphone, seperti contoh Realme / OPPO dengan teknologi VOOC yang dapat melakukan pengisian baterai dalam waktu kurang lebih 45 - 60 Menit. 
Pengurangan Cost Production pada perusahaan akan memberikan dampak positif bagi customer. Dengan berkurangnya ongkos produksi dapat memberikan efek pada penurunan harga jual smartphone yang dirilis di pasaran. 

2. Lebih Ramah Lingkungan

Dengan menghilangkan charger disetiap pembelian smartphone terbaru dapat mengurangi limbah elektronik setiap tahunnya. Limbah elektronik sendiri merupakan salah satu limbah berbahaya dikarenakan bahan pembuatannya yang dapat merusak lingkungan serta proses pengolahannya yang sulit untuk dilakukan. Limbah elektronik tidak dapat dibakar karena dapat merusak lapisan ozon, tidak dapat di kubur karena sulit terurai serta tidak dapat dihancurkan karena akan menambah jumlah limbah atau sampah setiap tahunnya. 

3. Memperkecil Ukuran Dusbox Smartphone

Charger adalah salah satu komponen yang menjadi penyebab besar nya ukuran box smartphone. Dengan menghilangkan charger, ukuran box dapat diperkecil sehingga dapat memberikan ruang yang lebih besar ketika akan melakukan shippping ke seluruh penjuru dunia. Dengan begini, volume produksi dapat ditingkatkan sedemikian rupa sehingga memberikan lebih banyak profit serta mengurangi pengeluaran yang kurang diperlukan bagi perusahaan. Dasarnya, hal ini akan kembali pada poin nomer 1 yaitu menrunkan ongkos produksi yang berakhir pada turunnya harga jual smartphone itu sendiri. 

Dampak Negatif dari Tren Tersebut

Seperti hal lumrah lainnya, dalam setiap dampak positif tentu saja ada beberapa dampak negatif yang dihasilkan dalam setiap kebijakan. Apa saja dampak negatifnya ? 

1. Customer yang Merasa Dirugikan

Penghilangan charger pada pembelian smartphone membuat customer harus mengeluarkan uang lebih ketika membeli smartphone.  Ini membuat banyak kritik dilontarkan dari customer ke vendor karena menganggap vendor mencoba untuk mengambil profit yang lebih lagi dari customer. Walau memang vendor tidak secara eksplisit menganjurkan untuk membeli charger original buatan vendor, akan tetapi tentu lebih aman apabila customer menggunakan aksesoris original buatan vendor. Selain terjamin kualitas nya, juga ketika mengalami kerusakan customer dapat melakukan claim garansi pada vendor. 

2. Meningkatkan Resiko Pencurian Smartphone 

Kenapa begitu ? Charger dan dusbox adalah salah satu tolak ukur mutlak dalam Forum Jual Beli HP second. Charger dan Dusbox biasanya menjadi tanda (selain pengecekan IMEI) bahwa Smartphone yang dijual adalah smarphone resmi milik pribadi dan bukan merupakan hasil curian. Terlebih lagi dalam beberapa tahun ini, pencurian smartphone menjadi hal yang marak dan banyaknya kasus penangkapan orang yang membeli smartphone bekas karena dikira menjadi penadah. Belum lagi resiko Charger yang palsu atau kelakuan oknum dalam menukar charger ori dengan KW. Oleh karena hal tersebut, banyak orang yang merasa keberatan dengan kebijakan penghilangan charger dalam setiap pembelian smartphone terbaru. 

Lalu Seberapa Efektif Kah Tren ini ? 


Pada Kuartal 3 tahun 2020, salah satu firm riset pasar yang bernama GARTNER memberikan laporan penjualan vendor smartphone. Xiaomi adalah vendor dengan penjualan tertinggi di pasar dan mampu menyalip Apple. Dengan Growth yang menyentuh angka 35% membuat Xiaomi menjadi smartphone terlaris pada kuartal ketiga tahun 2020. 
Data Market Share Vendor Smartphone 

Dengan total unit yang terjual sebesar 44,4 juta unit. Hal ini menunjukkan ada 44,4 juta unit charger yang diproduksi dan juga terjual di pasaran. Misal data ini digunakan, dengan menghilangkan charger pada setiap pembelian unit smartphone maka vendor smartphone sudah memangkas 44,4 juta unit charger yang tentunya ini akan sangat berdampak pada pemangkasan ongkos produksi. 
Jika kita kembali melihat tren smartphone, maka kemungkinan terbesar nya adalah smartphone yang terjual memiliki charger dengan teknologi Quick Charge dengan variasi ampere mulai dari 18 watt, 30 watt hingga 65 watt. Asumsikan dari 44,4 juta unit yang terjual, smartphone Xiaomi yang memiliki charger dengan ampere 18 watt, 30 watt, dan 65 watt terbagi rata, maka kurang lebih 14,8 juta setiap variasinya. 
Diambil dari berbagai sumber, bukan harga fix

Dengan begini, Xiaomi telah menghemat kurang lebih 1,3T untuk 18 watt, 6T untuk 30 watt dan 10T untuk 65 watt. Ini tentu saja dengan asumsi bahwa Xiaomi tidak mengurangi harga jual pada smartphone besutannya. 

Lalu bagaimana pada sektor "Ramah Lingkungan"

Menurut laporan dari The Global E-Wast Statistic Partnership, pada tahun 2020 terdapat kurang lebih 53,6 juta ton sampah elektronik yang ada di dunia. Angka ini terhitung mengalami peningkatan yang pesat, yaitu sebesar 9,2 juta ton pada tahun 2014. 
Dengan menggunakan data yang sama, maka satu vendor saja dapat mengurangi sampah elektronik sebesar 44,4 juta unit hanya pada 3 bulan. Angka ini termasuk angka yang sangat besar bagi pengurangan limbah elektronik. Jadi alasan "Ramah Lingkungan" bisa diterima oleh customer sebagai salah satu langkah untuk melindungi bumi. 

Posting Komentar untuk "Tak Dibekali Charger Menjadi Tren Terbaru Smartphone, Apa Manfaatnya dan Akankah Efektif ?"